APAKAH E-LEARNING ITU?

APAKAH E-LEARNING ITU?

Di zaman serba modern seperti saat ini banyak sekali alternatif yang dapat digunakan dalam pembelajaran salah satunya cara baru untuk belajar mengajar yaitu e-learning. Kini sudah banyak mahasiswa-mahasiswi hingga dosen sekarang mengetahui dan juga menggunakan sistem ini dalam aktivitas belajar mengajar mereka. Namun Sudah tahu kah anda e-learning itu apa? E-learning singkatan dari Electronic learning atau dalam bahasa Indonesia pembelajaran elektronik. E-learning merupakan sistem pembelajaran elektronik berbentuk teknologi informasi yang diterapkan dalam bidang pendidikan berupa website yang dapat diakses di mana saja dengan memanfaatkan internet.

Dalam arti luas e-learning dapat mencakup pembelajaran yang dilakukan dengan memanfaatkan media elektronik dan juga internet baik itu secara formal maupun informal. Secara formal e-learning merupakan pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah ditentukan oleh pihak-pihak terkait. Biasanya pembelajaran jarak jauh yang telah dikelola dan diatur oleh pihak universitas atau juga dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang menyediakan fasilitas e-learning. Sedangkan secara informal dapat dilakukan dengan lebih sederhana, misalnya dengan sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi dan organisasi untuk mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan sampai keterampilan tertentu kepada masyarakat luas.

Tentunya dengan sistem pembelajaran yang baru ini mempunyai beberapa manfaat. Manfaat e-learning diantaranya adalah (1) Efisiensi biaya, e-learning sangat memberi efisiensi biaya baik bagi administrasi penyelenggara maupun bagi pembelajar. Efisiensi biaya bagi administrasi penyelenggara adalah efisiensi penyediaan sarana dan juga fasilitas fisik untuk belajar, sedangkan bagi pembelajar ialah hemat biaya transportasi dan akomodasi. (2) Fleksibel, artinya e-learning memberi kemudahan dalam memilih waktu dan juga tempat untuk mengakses pelajaran. Dan (3) Belajar mandiri, e-learning memberi kesempatan kepada pembelajar untuk mengendalikan suatu keberhasilan proses belajar dengan mandiri.

Referensi :

Pengertian E-Learning Karakteristik dan Manfaat E-Learning terlengkap

http://e-dufiesta.blogspot.co.id/2008/06/pengertian-e-learning.html?m=0

BAB XIII KOMUNIKASI DALAM TULISAN

BAB XIII

KOMUNIKASI DALAM TULISAN

13.1 PENULISAN KABAR ATAU BERITA

Dalam penulisan berita hendaknya informasi yang didapat mencakup pertanyaan 5W + 1H atau siapa, apa, kapan, dimana, mengapa dan bagaimana. Disusun dengan gaya penulisan piramida terbalik.

13.2 PENULISAN PESAN PESAN PERSUASIVE

Menulis pesan persuasive dilakukan guna memberikan pengaruh kepada audiens. Biasanya pesan pesan yang disampaikan dapat meyakinkan audiens.

13.3 KORESPONDESNSI (SURAT MENYURAT)

Surat menyurat juga dikenal dalam dunia bisnis. Surat merupakan sarana penyampaian pesan dari satu orang kepada orang lain. Bentuk surat dapat serupa surat konvensional (ditulis di atas kertas) maupun surat elektronik (email). Bahasa yang digunakan itu, formal, semi formal dan informal. Surat terbagi menjadi tiga, yaitu : surat pribadi, surat dinas, dan surat bisnis. Contoh bagian-bagian surat formal yaitu ada, kepala surat, tanggal, nomor, lampiran, hal, alamat yang dituju, salam pembuka, paragraph pembuka, paragraph isi, paragraph penutup, salam penutup, tanda tangan, nama terang, tembusan, dan inisial.

 

 

Sumber :

  • Djoko Purwanto, 2003, Komunikasi Bisnis, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  • Curtis, Dan B;Floyd, James J;Winsor, Jerry L, 1999, Komunikasi Bisnis dan Profesional, Penerbit Remaja Rosda Karya, Bandung.
  • Guffey,Mary Ellen; Rhodes, Kathleen; Rogin, Patricia,2006, Komunikasi Bisnis : Proses dan Produk Buku 1 dan 2, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

BAB XI KOMUNIKASI LISAN DAN NEGOSIASI

BAB XI

KOMUNIKASI LISAN DAN NEGOSIASI

11.1 KOMUNIKASI LISAN DALAM RAPAT

Di dalam pertemuan dan rapat setiap peserta harus menyadari posisinya dalam forum tersebut. Tiap peserta hendaknya:

– Mampu berkomunikasi secara jujur, terbuka dan bertanggung jawab.

– Mampu berperan sebagai komunikator yang berpartisipasi aktif namun tidak memonopoli pembicaraan.

– Mampu berperan sebagai komunikan yang sangat responsive namun tidak emosional.

– Mampu berperan sebagai penyelaras yang sangat bijaksana dan adil namun tidak kehilangan pendirian.

– Mampu mengendalikan diri, dan menghindarkan terjadinya debat serta tidak berbicara bertele-tele.

11.2 KOMUNIKASI LISAN DALAM WAWANCARA

Bahasa Tubuh menjadi salah satu keberhasilan Anda mendapatkan Kesempatan Kerja pada saat Proses Wawancara berlangsung.  Proses Wawancara adalah bagian terpenting dalam serangkaian proses seleksi maupun asessment bagi Anda. Wawancara melibatkan interaksi langsung dengan pewawancara, untuk itu, Anda juga perlu memperhatikan komunikasi non-verbal.  Apakah yang perlu dipersiapkan dalam Rangkaian Komunikasi Non Verbal ini, sehingga Rangkaian Wawancara menjadi sebuah Keyakinan Kuat dalam Proses Mencari Kerja atau Pengembangan Karir Profesional Anda.

Penampilan
Anda perlu berpenamilan Rapid an Tampak Profesional.  Tidak harus mengenakan Blazer atau Jas, namun cukup dengan Kemeja dan Celana yang Pas dan Nyaman di Badan Anda.  Pakaian yang Bersih, Rapi dan Wangi akan membangkitkan Percaya Diri Anda dalam Interaksi nanti.

Jabat Tangan

Jabat Tangan dengan erat tanpa Tenaga Berlebih atau Cenderung Lemas, yang akan menunjukkan Semangat dan Gairah Anda bertemu Pewawancara dan Menghadapi Rangkaian Wawancara.  Pada saat inilah Anda mula membangun Kontak Mata yang Jujur dan Tulus.

Kontak Mata

Setelah bertemu dan berjabat tangan, maka Anda usahakan agar terjadi Kontak Mata yang wajar dan luwes.  Kontak Mata adalah Usaha Anda membangun Interaksi Sosial yang Hangat dan Profesional.

Gesture Badan

Ciptakan suasana Rileks dan Santai agar Anda tidak Tegang dan Stress dalam sesi Wawancara ini.  Kebiasaan Anda bukan berarti harus dihilangkan, namun Anda perlu melakukan Kontrol Diri karena momen Wawancara merupakan kondisi yang akan dinilai semua aspek terkait.

Sikap Sopan

Tetap jaga sikap Anda, walau harus melalui tahapan Test terlebih dahulu yang cukup menyita waktu dan tenaga, sebelum sesi wawancara berlangsung.  Kontrol Emosi dan Perasaan Anda pada saat bertemu Pewawancara

Senyum
Tidak mudah untuk Senyum dalam kondisi Lelah dan Letih setelah Test.  Namun Anda dapat dengan berlatih melenturkan Otot Pipi dan Rahang agar proses panjang berlangsung Nyaman dan Rileks bagi kedua pihak.  Senyuman member suasana tenang bagi Anda dan Pewawancara.

Jarak Tubuh

Jangan berhadapan terlalu condong atau terlalu jauh, atau Anda membentuk sudut dalam komunikasi dua arah ini.  Usahakan tetap memberikan Jarak dengan Pewawancara sehingga Suara dan Korelasi berlangsung intens.

Suara Jelas

Selain Bahasa Tubuh, Suara Anda perlu terdengar jelas dan tidak terkesan Berbisik atau Berteriak.  Anda perlu berlatih mengatur Intonasi , Nada dan Volume Suara, sehingga jika pewawancara merekamnya untuk dipelajari lebih lanjut, maka Anda telah memberikan yang terbaik dari potensi Anda.

Perbincangan
Tidak Sulit untuk melakukan Percakapan dengan Teman Kerja atau Rekan Bisnis.  Namun pada saat Wawancara dimana Anda merasa sebagai Pihak Yang Mencari, tentu sedikit banyak akan terasa Kikuk dan Kaku dalam menjalaninya.  Coba banyak berlatih Mengatur Intonasi Suara, Bahasa Tubuh, sehingga Anda tanpa sadar melakukan Wawancara Bak Percakapan sehari-hari dalam Pekerjaan.

Hindari Pertentangan

Wawancara adalah Usaha Anda menjual diri dengan Pengalaman dan Kompetensi yang dimiliki.  Pada saat ini Anda akan ditantang dengan sebuah Pertanyaan dan Kasus, namun jika Anda memaksakan diri dengan sebuah Performa yang dibuat-buat akan dapat timbul pertentangan.  Jujurlah dalam menjawab, dan jika memang Anda tidak Tahu maka ucapkan Tidak Tahu, tanpa mencari-cari cara untuk Tampak Tahu.

11.3 KOMUNIKASI LISAN DALAM BERNEGOSIASI

  1.  Proactive Comunication .Komunikasi yang diambil adalah komunikasi yang proaktif bukan yang reaktif.

Contoh kata-kata reaktif : tapi kan.. , hal itu buruk sekali.., kamu berpendapat salah, aku kan benar, hal itu tidak logis, ah itu hanya kata-kata klise, hal itu hal yang terpaksa, hal itu takkan pernah bisa.

Contoh kata-kata proaktif : sebaiknya bagaimana?, ada baiknya jikalau hal itu kita minimalisasikan, mudah-mudahan pendapatku ini lebih baik dari yang tadi, mari kita cari solusi yang terbaik, pasti kita akan menemukan jalan lain, aku memilihnya, aku meyakininya, yuk kita telaah lebih dalam.

  1.  Find the word. Berlatihlah untuk mendapatkan kata-kata tepat yang tidak membuat orang lain bingung dengan keambiguan , misalnya ada sebuah kalimat “kedudukan tinggi termostat berapa?” pertanyaan ini ada dua pengertian yang pertama suhu yang kedua tinggi termostatnya.
  2. Avoid debate, karena perdebatan timbul dikarenakan perkataan kita yang membingungkan, ataupun kata-kata kita yang tidak dipahami oleh lawan kita. Berhenti sejenak, persilahkan mereka berbicara, akui apabila kita berbicara yang salah, tanpa pembenaran, lalu kita klarifikasi ke arah kata-kata yang benar.
  3. Explain before bargain, penawaran dilakukan setelah orang tersebut paham. Orang paham tidak selalu setuju, minimal orang yang paham memiliki kata-kata kita, walaupun tidak setuju.   Sebaiknya setelah paham  tariklah menuju daerah persetujuan dengan proses penawaran keinginan kita.
  4. Creative learning:
  • Mendengarkan Dengan visible atau invisible comunication: Mendengarkan dengan mata, hati dan telingamu, mendengarkan dengan telinga saja tidak cukup karena hanya 7 % komunikasi yang terkandung dalam kata-kata yang diucapkan, yang selebihnya berasal dari bahasa tubuh (53 %) dan dengan nada/ perasaan adalah 40%.
  • Mendengarkan apa yang tidak diucapkan, biasanya seluruh perkataan yang disampaikan orang lain belum tentu apa yang tersembunyi dalam hatinya, maka dengarlah lebih jauh maksud hatinya (tidak dengan spekulasi, bisa dilihat dengan gerak-gerik ataupun cara bicara mereka). (simulasi konsentrasi “sama”)
  • Selami perasaan mereka, berusahalah memekai kacamata mereka, agar paham apa yang mereka lihat ataupun yang mereka rasakan. Misalnya, jikalau mereka memakai kacamata dengan kaca hijau , maka kita berusaha untuk merasakan bagaimana rasanya memakai kaca mata hijau. Kalau kita tetap bersikeras pada saat itu mempertahankan kacamata yang berbeda maka yang terjadi adalah konflik. Sewaktu kita menyampaikan sesuatu yang berat maka rasakanlah  jikalau kita menjadi mereka, dan mendapatkan informasi yang sama beratnya. Tetapi dalam hal ini bukan berarti kita tidak menyampaikannya . Maksimalkan seluruh potensi perasaan kita terhadap mereka itu yang lebih penting, dengan demikian kita memiliki waktu yang tepat untuk menyampaikan informasi yang berat tersebut. (simulasi ganda gambar)
  • Bersikaplah seperti cermin, cermin kan tidak menghakimi. Cermin tidak memberikan nasihat. Cermin hanya memantulkan. Bersikap seperti cermin maksudnya mengulangi kata-kata sendiri bukan mengulangi kata-kata yang sama, mengulangi maknanya, bukan mengulangi kata-perkata, disinilah akan terasakan keajaiban komunikasi  dari hasil creative learning (perlu dicoba).

Contoh meniru :

“Wah Ridwan sekarang aku benar-benar gak konsen di kampus”

“Kamu bener-bener  lagi gak konsen di kampus ya… “

“Nilaiku semua parah.”

“Kamu lagi dapetin nilai parah ya….”

“Kamu ini gimana sih wa selalu meniru apa yang gw katakan, kesal gw ama kamu ..”

Contoh Menjadi cermin:

“Wah Ridwan sekarang aku bener-bener gak konsen di sekolah “

“Kamu lagi banyak pikiran ya..”

“Iya nih aku lagi banyak pikiran di  sekolah, urusan ini itu wah pokoknya pusing, dosennya rese lagi “

“kamu lagi kesal ya..”

“Gimana gak kesal coba, udah tahu aku lagi banyak pikiran, orang tuaku ngomel melulu lagi karena nilaiku parah, ah gimana nih aku bingung???”

Setelah ada kata-kata pertanyaan solusi baru kita  boleh menasehatinya.

(boleh dicoba)

Ungkapan bahasa cermin :

  • “yang saya tangkap, kamu merasa bahwa …, betul tidak yaa?”
  • “Jadi yang saya lihat ini…”
  • “Saya mengerti bahwa kamu merasa …”

Ungkapan yang harus dihindari :

Ketika teman Ridwan berkata tentang kedaan nilai serta keadaan              dikampusnya :” “Wah Ridwan sekarang aku bener-bener gak konsen di sekolah “

“Tolong ambilkan Buku itu dong “ (mengawang-awang)

“Kedengarannya bagus : (pura-pura mendengarkan)

“Bicara masalah teman kita si Ujang..”(Mendengarkan secara selektif)

“Kamu kurang berusaha kali “ (menghakimi)

“Nilaimu ada masalah ?” (menggali)

  1. Power of sound, Memakai nada kuat maupun nada lemah. Kapan kita menggunakan nada kuat, kapan kita memakai nada lemah, biasanya nada kuat untuk menandakan kata-kata penting dalam sebuah kalimat, misalnya sebuah dalil quran, pepatah, dll. Usahakan untuk yang selain itu memakai nada lemah (halus). Untuk menandakan point yang dituju dalam sebuah nasihat , contoh

“Aku tidak bilang kamu punya masalah sikap”

Aku tidak bilang kamu punya masalah sikap”

“ Aku tidak bilang kamu punya masalah sikap”

  1. Use Sosiosentrik less egosentrik, Kadang kita memiliki ilmu dengan kata-kata yang tinggi, maka hal itu akan menyebabkan egosentrik kalau tidak sesuai dengan keadaan, tetapi pakailah kata-kata sosiosentrik yang memasyarakat, dengan kondisi lawan bicara, baik berupa dalil-dalil, maupun hal-hal yang lainnya.
  2. Equipt something good, dalam berbicara kita sodorkan apa yang dia senangi, misalnya makanan kecil, dll

Sumber :

  • Djoko Purwanto, 2003, Komunikasi Bisnis, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  • Curtis, Dan B;Floyd, James J;Winsor, Jerry L, 1999, Komunikasi Bisnis dan Profesional, Penerbit Remaja Rosda Karya, Bandung.
  • Guffey,Mary Ellen; Rhodes, Kathleen; Rogin, Patricia,2006, Komunikasi Bisnis : Proses dan Produk Buku 1 dan 2, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

BAB IX PRESENTASI BISNIS

BAB X

PRESENTASI BISNIS

9.1 PERSIAPAN DASAR PRESENTASI BISNIS

Persiapan dasar menjelang presentasi :

  1. Penguasaan terhadap topik atau materi yang akan dipresentasikan.
  2. Penguasaan berbagai alat bantu presentasi dengan baik.
    3. Menganalisis siapa yang akan menjadi audiens/peserta presentasi.
    4. Menganalisis berbagai lingkungan lokasi atau tempat untuk presentasi.

9.2 PENGGUNAAN ALAT BANTU DALAM PRESENTASI

  • Papan tulis hitam dan putih (blacboard & whiteboard)

Merupakan salah satu alat bantu presentasi yang sudah cukup lama, dan kini alat  bantu tsb relatif jarang digunakan. Sarana ini cocok untuk kegiatan seperti lokakarya, briefing, rapat maupun diskusi

  • Flip Charts

adalah sebuah papan yg dilengkapi dgn lembaran-lembaran kertas berukuran  penuh. Apabila lembar kertas sudah penuh, maka dpt dimembuka lembar kosong selanjutnya atau menyobeknya.

  • Transparansi overhead project

nampaknya merupakan alat bantu presentasi yang cukup populer bagi para  pembicara. Diberbagai belahan dunia seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia dan kanada. Dengan semakin meluasnya teknologi komputer, maka semakin banyak yg dapat memanfaatkan kemampuan komputer untuk membuat tampilan grafik, gambar, bagan dsb.

  • Papan tulis elektronik

Papan tulis elekronik memiliki motor elektronik untuk menggulung layar sehingga muncul bagian bersih yang baru dan seterusnya

  • Video cassete recorder (vcr)

Video cassete recorder (perekam kaset video) dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan persentase bisnis . anda dapat merekam berbagai program  pelatihan atau kegiatan kegiatan tertentu sebagai bahan study kasus dalam format kaset video . kaset video memiliki tiga macam format yaitu : PAL, NTSC, SECAM

  • PANEL LCD

Panel liquid crystal display (LCD) memiliki kesamaan dengan layar komputer  jenis laptop yakni transparan , untuk dapat beroperasi layar LCD dihubungkan dengan port monitor bagian belakang komputer yang bertindak seperti layar komputer dan bertindak seperti layar komputer biasa yang menayangkan data atau gambar.

  • Proyektor LCD

Proyektor LCD (liquid crystal display) merupakan salah satu alat bantu persentasi yang banyak di gunakan oleh organisasi atau lembaga bisnis maupun non bisnis . dalam perkembangannya , proyektor LCD dari waktu ke waktu mengalami  perkembangan yang semakin baik . perkembangannya dapat dilihat dari produk atau tau tampilan produk yang semakin menarik dan ramping. Proyektor LCD ini baru dapat berfungsi dengan baik apabila dihubungkan dengan Personal Computer (PC) baik dalam bentuk komputer jinjing (portabel computer) maupun komputer meja (desktop komputer)

9.3 MENGANALISIS AUDIENS

Pembicara setidaknya mencari tahu tentang audiens seperti :

– Siapa audiensnya?
– Apa yang diinginkan audiens?
– Di mana pembicara akan melakukan presentasi?
– Kapan melakukan presentasi?
– Mengapa melakukan presentasi?
– Bagaimana melakukan presentasi?

9.4 MEMPERSIAPKAN DIRI DAN MENTAL

Demam panggung, gugup, gerogi, malu berbicara di hadapan publik adalah hal yang biasa terjadi. Namun bagi pemimpin, baik itu di organisasi besar maupun organisasi kecil, harus bisa membiasakan diri dengan tampil di depan umum atau setidaknya tahu apa saja yang harus dilakukan saat tiba-tiba gugup. Berikut ini adalah hal-hal yang biasa terjadi saat akan melakukan presentasi dan bagaimana caranya agar bisa dikendalikan:
– Gemetar: tangan dan mulut yang gemetaran bukanlah disebabkan oleh adanya rasa takut. Itu merupakan suatu proses homeostatic dari badan yang membuang kelebihan energi. Janganlah mencoba mengendalikan proses ini dengan mencengkeram mimbar atau memasukan tangan ke dalam saku. Apabila hal itu terjadi, sebenarnya akan semakin memperparah masalah. Gunakan kelebihan energi tersebut secara positif dengan melakukan gerakan tubuh yang termotivasi oleh apa yang sedang disampaikan kepada audiens. Biarkan gerakan-gerakan itu terjadi secara wjar.
– Bicara terpus-putus: jika saat presentasi bisnis seorang pembicara kehilangan urutan pemikiran atau terputus-putus, sebaiknya lepaskan kontak mata dengan audiens, ambil nafas dalam-dalam, hembuskan nafas secara perlahan-lahan, sambal melihat catatan-catatan kecil. Selanjutnya, fokuskan perhatian pada apa yang sedang disampaikan, dan bukannya apa yang terlupakan.
– Mulut kering: jika pada saat pembicara melakukan presentasi bisnis dan terasa mulut kering, sebaiknya segera minta disediakan segelas air minum dengan cara langsung atau tidak langsung. Hindari mengunyah permen atau sejenisnya karena dapat mengganggu artikulasi (pengucapan kata) dan dapat tertelan tanpa sengaja.
– Ternggorokan tersumbat: belajarlah menguap diam-diam sambil tundukan kepala, katupkan bibir, buka bagian belakang tenggorokan, dan Tarik udara masuk lewat hidung. Cara tersebut merupakan salah satu bentuk latihan untuk melepaskan ketegangan yang terbentuk dalam tenggorokan.
– Tersengal-sengal: tundukan kepala dan alihkan focus dari audiens. Lipatkan lengan kiri menyilang bagian bawah perut, kendurkan bahu, Tarik nafas dalam-dalam ke bagian bawah perut, dan hembuskan nafas perlahan-lahan lewat bibir.

Sumber :

  • Djoko Purwanto, 2003, Komunikasi Bisnis, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  • Curtis, Dan B;Floyd, James J;Winsor, Jerry L, 1999, Komunikasi Bisnis dan Profesional, Penerbit Remaja Rosda Karya, Bandung.
  • Guffey,Mary Ellen; Rhodes, Kathleen; Rogin, Patricia,2006, Komunikasi Bisnis : Proses dan Produk Buku 1 dan 2, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

BAB VIII PERENCANAAN LAPORAN BISNIS

BAB VIII

PERENCANAAN LAPORAN  BISNIS

8.1 PENGERTIAN DAN JENIS LAPORAN BISNIS

Pengertian

Laporan bisnis adalah suatu laporan yang memiliki sifat netral, tidak memihak, memiliki tujuan yang jelas dan berisi rencana penyajian fakta kepada seseorang atau lebih untuk tujuan bisnis tertentu.

Menurut Herta A. Murphy Laporan Bisnis adalah suatu laporan yang memiliki sifat netral, tidak memihak, memiliki tujuan yang jelas, dan berisi rencana penyajian fakta kepada seorang atau lebih untuk tujuan bisnis tertentu.

Menurut Himstreet Laporan Bisnis adalah suatu pesan-pesan objektif yang disusun secara teratur dan digunakan untuk menyampaikan informasi dari suatu bagian organisasional atau dari satu institusi atau lembaga kelembaga yang lain guna membantu pengambilan keputusan atau pemecahan masalah.

Jenis

  1. Laporan memorandum: laporan yang menggunakan format memo yaitu mencantumkan kepada, dari, subjek, dan tanggal.
  2. Laporan surat: laporan yang menggunakan format surat dengan kepala surat, yang di dalamnya berisi alamat, salam pembuka, penutup, tanda tangan, dan referensi.
  3. Laporan dalam bentuk cetakan: mempunyai judul yang sudah tercetak, instruksi, dan baris-baris kosong.
  4. Laporan formal: biasanya lebih panjang daripada laporan informal.

8.2 BAGIAN POKOK DALAM LAPORAN BISNIS

  1. Pendahuluan
  • Pemberi kuasa
  • Layout atau rencana presentasi
  • Masalah
  • Maksud penulisan laporan
  • Ruang Lingkup
  • Metodologi
  • Sumber-sumber primer atau sekunder
  • Latar belakang
  • Definisi istilah
  • Keterbatasan
  • Rekomendasi
  1. Isi teks (laporan)
  2. Penutup
  • Rangkuman
  • Kesimpulan
  • Rekomendasi
  • Rencana tindakan
  • Proposisi

8.3 PENGORGANISASIAN ISI DALAM LAPORAN BISNIS

Ada 2 cara yang dapat digunakan untuk menyusun isi laporan bisnis yaitu cara deduksi (langsung) dan cara induksi (tak langsung).

  1. Cara Deduksi

Menyampaikan ide pokok dan rekomendasi terlebih dahulu,setelah itu baru dijelaskan hal – hal yang rinci.Digunakan pada kriteria pembaca:

  1. Esekutif yang sibuk,ingin berita segera,
  2. Ingin mengetahui berita baik atau informasi netral,
  3. Ingin menganalisa data dengan baik ketika analisa laporan berada diawal.
  4. Cara induksi

Menjelaskan fakta – fakta yang ada terlebih dahulu,kemudian memberikan ide pokok, kesimpulan dan rekomendasi.Digunakan pada kriteria pembaca:

  1. Ingin mengetahui penjelasan secara rinci terlebih dahulu,
  2. Ingin mengetahui kesimpulan yang kurang menyenangkan,
  3. Perlu membaca laporan secara keseluruhan bukan awalnya saja.

8.4 PENULISAN LAPORAN SINGKAT

Dalam laporan singkat, hanya mengutamakan isi dari laporan tersebut. Laporan singkat biasanya berupa memo atau surat sepanjang dua halaman. Bentuk umum dari laporan singkat adalah pembuka, hasil temuan, bahasan, dan penutup.

8.5 MEMBUAT LAPORAN BISNIS YANG BAIK

Laporan bisnis yang baik mencakup tiga hal, yaitu:

  1. Informasi yang akurat
  2. Isi menunujukkan suatu pertimbangan yang baik dari penulis
  3. Format, style, dan organisasi sesuai dengan kebutuhan pembaca

 Sumber :

  • Djoko Purwanto, 2003, Komunikasi Bisnis, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  • Curtis, Dan B;Floyd, James J;Winsor, Jerry L, 1999, Komunikasi Bisnis dan Profesional, Penerbit Remaja Rosda Karya, Bandung.
  • Guffey,Mary Ellen; Rhodes, Kathleen; Rogin, Patricia,2006, Komunikasi Bisnis : Proses dan Produk Buku 1 dan 2, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

BAB VII PENGORGANISASIAN DAN REVISI PESAN PESAN BISNIS

BAB VII

PENGORGANISASIAN DAN REVISI PESAN PESAN BISNIS

7.1 PENGORGANISASIAN MELALUI OUTLINE

Pada dasarnya, untuk mencapai pengorganisasian yang baik diperlukan dua proses tahapan, yaitu pendefinisian dan penggolongan ide-ide; dan penetapan urutan ide-ide dengan perencanaan organisasional yang terpilih secara hati-hati.

  1. Mendefinisikan dan mengelompokkan ide-ide

Memutuskan apa yang harus dikatakan adalah masalah mendasar yang harus dipecahkan oleh setiap komunikator. Jika materi yang disajikan lemah, apalagi tidak memiliki suatu gaya yang menarik, fakta yang ada dapat menjadi kabur. Cepat atau lambat, audience akan menyimpulkan bahwa yang disampaikan benar-benar tidak bernilai sedikitpun. Semua kegiatan komunikasi, baik menelpon, membuat 3 paragraf surat, atau menulis laporan 200 halaman, harus dimulai dengan mendefinisikan isi materinya. Semakin panjang dan kompleks materi yang akan disampaikan, semakin penting tahap pertama ini.

Apabila pesan yang disusun panjang dan kompleks, pembuatan outline sangat diperlukan dan menjadi penting artinya. Mengapa demikian? Sebuat outline akan membantu memvisualisasikan hubungan antara bagian yang satu dengan bagian yang lain. Disamping itu, outline juga akan memberikan arahan sehinga komunikator dapat menyampaikan ide-ide dengan cara yang sistematik, efisien dan efektif. Melalui perencanaan yang baik, outline akan membantu komunikator mengekspresikan transisi antara ide-ide, sehingga audience akan mengerti dan memehami pola piker komunikator. Susunan suatu outline secara garis besar dapat digolongkan ke dalam tiga golongan, yaitu :

  • Mulailah dengan ide pokok

Ide pokok (main idea) akan membantu menetapkan tujuan dan strategi umum dari suatu pesan. Idde pokok tersebut dapat dirangkum ke dalam dua hal yaitu: (a) hal-hal apa yang diinginkan agar dilakukan atau dipikirkan oleh audience, (b) alasan yang mendasar, mengapa mereka harus melakukan atau memikirkannya. Ide pokok merupakan titik awal untuk membuat outline.

  • Nyatakan poin-poin pendukung yang penting

Setelah menetapkan ide pokok pesan yang akan disampaikan, tahap kedua adalah menyusun poin-poin penting lainnya, sebagai pendukung ide pokok.

  • Ilustrasi dengan bukti-bukti

Tahapan ketiga dalam menyusun outline adalah memberikan ilustrasi dengan mengemukakan bukti yang berhasil dikumpulkan. Semakin banyak bukti yang dapat disajikan, semakin baik outline yang dibuat.

  1. Menentukan urutan dengan rencana organisional

Setelah selesai mendefinisikan dan menggolongkan ide-ide, langkah selanjutnya adalah menentukan urutan penyampaian materi. Untuk menentukan urutan penyampaian materi, ada dua pendekatan penting yang dapat digunakan, Yaitu:

  • Pendekatan langsung

Pendekatan langsung sering disebut juga dengan istilah pendekatan deduktif, di mana ide pokok muncul paling awal kemudian di ikuti bukti pendukungnya.

  • Pendekatan tidak langsung

Sering disebut juga dengan istilah pendekatan induktif, di mana bukti-bukti muncul terlebih dahulu kemudian diikuti dengan ide pokoknya.

Kedua pendekatan dasar tersebut dapat diterapkan baik untuk pesan singkat (memo dan surat) maupun pesan formal/panjang (laporan, usulan, dan presentasi). Untuk menentukan pendekatan yang akan digunakan, reaksi audience terhadap maksud/tujuan pesan dan tipe/jenis pesan yang akan disampaikan harus dianalisis terlebih dahulu.

Secara umum, pendekatan langsung cocok digunakan manakala para audience mempunyai hasrat, tertarik, senang, atau bersikap netral terhadap pesan yang akan disampaikan. Tetapi jika mereka menolak, yang anda sampaikan, lebih baik digunakan pendekatan tak langsung. Kesimpulanya, jika reaksi para audience positif, gunakanlah pendekatan langsung; dan sebaliknya, jika reaksi audience negatif, gunakanlah pendekatan tak langsung

Setelah menganalisis kemungkinan reaksi para audiens dan memilih suatu pendekatan umum, langkah berikutnya adalah menentukan rencana organisasional yang paling cocok diantara bebagai model berikut :

  1. Direct request: penyampaian yang langsung pada poin yang dituju (to the point), cocok menggunakan pendekatan pendekatan langsung.
  2. Pesan-pesan rutin, good news, atau goodwill: cocok dengan menggunakan pendekatan langsung.
  3. Pesan-pesan bad news: pendekatan yang dapat diterapkan adalah pendekatan tak langsung.
  4. Pesan-pesan persuasive: pendekatannya adalah dengan cara tak langsung.

7.2 PEMILIHAN KATA

Pemilihan kata yang tepat adalah penggunaan kata-kata tertentu untuk mencurahkan ide atau pikiran ke dalam sebuah kalimat. Agar pesan yang terkandung dalam kalimat yang disampaikan kepada orang lain dengan mudah dapat dimengerti, maka harus menggunakan kata-kata dengan baik.

  • Pilihlah kata yang sudah familiar/dikenal

Dalam menyampaikan pesan-pesan bisnis, gunakanlah kata-kata yang sudah dikenal, umum dan lazim sehingga mudah dipahami oleh audiens. Jangan menggunakan kata-kata atau istilah yang nampaknya mentereng, bombastis, tetapi justru hanya membuat audiens bingung.

  • Pilihlah kata-kata yang singkat

Anda perlu juga memilih kata-kata yang singkat dalam penyampaian pesan-pesan bisnis. Kata-kata yang singkat, selain efisisen, juga mudah dipahami oleh audiens. Meskipun pemilihan kata yang disingkat diperlukan, harus tetap diperhatikan berbagai kaidah penulisan bahasa yang baik dan benar.

  • Hindari kata-kata yang bermakna ganda

Kata-kata yang memiliki berbagai pengertian harus dihindari dalam penyampaian pesan-pesan bisnis. Penggunaan kata-kata tersebut akan mengakibatkan terjadinya penafsiran yang bermacam-macam. Akibat selanjutnya adalah kemungkinan tidak tercapainya maksud penyampaian pesan-pesan bisnis.

7.3 MEMBUAT KALIMAT EFEKTIF

Penyusunan kata yang efektif mempermudah pembaca mengerti isi pesan. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk menyusun kalimat, yaitu kesatuan pikiran, kesatuan susunan dan kelogisan.

Tiga Jenis Kalimat

  • Kalimat Sederhana: Suatu kalimat sederhana hanya memiliki sebuah subjek dan predikat. Namun tidak menutup kemungkinan suatu kalimat dilengkapi dengan objek baik langsung maupun tidak langsung
  • Kalimat Majemuk: Kalimat majemuk berisi dua atau lebih klausa independen dan tidak mempunyai klausa dependen. Klausa independen merupakan  klausa yang dapat berdiri sendiri atau mempunyai pengertian yang utuh, sedangkan klausa dependen adalah klausa yang tidak dapat berdiri sendiri sehingga tidak memiliki klausa yang utuh.
  • Kalimat Kompleks: Kalimat kompleks berisi sebuah klausa independen dan satu atau lebih klausa dependen sebagian anak kalimat.

Sumber :

  • Djoko Purwanto, 2003, Komunikasi Bisnis, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  • Curtis, Dan B;Floyd, James J;Winsor, Jerry L, 1999, Komunikasi Bisnis dan Profesional, Penerbit Remaja Rosda Karya, Bandung.
  • Guffey,Mary Ellen; Rhodes, Kathleen; Rogin, Patricia,2006, Komunikasi Bisnis : Proses dan Produk Buku 1 dan 2, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

BAB VI PERENCANAAN PESAN PESAN BISNIS

BAB VI

PERENCANAAN PESAN PESAN BISNIS

6.1 PENETUAN PROSES KOMPOSISI

Proses Komposisi adalah proses penyusunan pesan-pesan bisnis, yang meliputi tahapan-tahapan :

  1. Perencanaan

-Maksud/tujuan komunikasi

-Audiens yang akan menerima pesan

-Ide pokok pesan-pesan yang akan digunakan

-Saluran atau media yang akan digunakan

  1. Organisasi dan Komposisi

Mengorganisasikan ide-ide dan dituangkan dalam bentuk draft yang berkaitan dengan komitmen pemikiran yang dimulai dengan merangkai kata, kalimat, paragraf yang sederhana, mudah dipahami, dimengerti dan dilaksanakan oleh si penerima pesan serta memilih ilustrasu yang diperlukan untuk mendukung ide pokok bahasannya.

Organisasi dan komposisi erat kaitannya dengan penyusunan kata kalimat, dan paragraf perlu diperhatikan penggunaan kata, kalimat, dan paragraf yang sederhana, mudah dimengerti, dan dilaksanakan.

  1. Revisi

Proses perbaikan terhadap maksud dan isi pesan dari sisi substansi pesan yang ingin disampaikan, gaya penulisannya, struktur kalimat yang digunakan dan bagaimana tingkat pemahamannya serta memperhatikan penggunaan kata-kata, kalimat dan paragraf telah diekspresikan dengan baik.

6.2 PENENTUAN TUJUAN

Tujuan : harus jelas dan dapat diukur untuk pengambilan keputusan

Pengambilan keputusan :

Keputusan untuk meneruskan pesan

Keputusan untuk menanggapi audiens

Keputusan untuk memusatkan isi pesan

Keputusan untuk menetapkan media yang akan digunakan

Tujuan Komunikasi Bisnis :

-Memberi informasi (informing)

-Memberi persuasi (persuading)

-Melakukan kolaborasi (collaboring) dengan audiens

6.3 ANALISIS AUDIENS

Pembicara seyogyanya mencari tahu berbagai macam hal yang bersangkutan dengan audiens antara lain :

– Berapa jumlah mereka

– Umur rata-rata mereka

– Apa profesi mayoritas audiens

– Latar belakang pendidikan mereka

– Seberapa jauh pengetahuan mereka tentang topik yang akan dipresentasikan

– Bagaimana sikap mereka terhadap topik yang akan dipresentasikan

– Apa yang diharapkan dari pertemuan, training, seminar atau lokakarya yang akan mereka hadiri.

6.4 PENENTUAN IDE POKOK

Isi dari pesan bisnis tersurat pada :

  • Topik pokok adalah subjek pesan yang lebih luas
  • Ide pokok adalah pernyataan tentang suatu topik, menjelaskan tentang isi dan tujuan topik

Metode identifikasi terhadap ide pokok ada dua yaitu teknik brainstorming dan pembatasan cakupan.

6.5 SELEKSI SALURAN DAN MEDIA

Pesan-pesan bisnis harus sesuai dengan situasi yang ada. Ide-ide dapat disampaikan melalui dua saluran, yaitu saluran lisan dan tertuis. Pilihan mendasar antara berbicara atau menulis tergantung pada tujuan atau maksud pesan, audiens dan karakteristik dari kedua saluran komunikasi tersebut.

Seleksi saluran dan media

Ide pokok dari pesan – pesan bisnis dapat disampaikan melalui dua saluran yaitu saluran lisan atau oral atau tertulis.

  1. Komunikasi lisan

Salah satu kebaikan dari komunikasi lisan adalah kemampuan memberikan feedback dengan segera. Kelebihan lain adalah sifatnya yang ekonomis. Pendekatan lisan juga brmanfaat apabila yang disajikan adalah informasi kontroversial karena reaksi audiens dapat terbaca dari bahasa isyarat mereka.

  1. Komunikasi tertulis

Salah satu kelebihan komunikasi tertulis adalah peneulis mempunyai keempatan untuk merencanakan dan mengendalikan pesan – pesan mereka. Suatu format tulisan diperlukan jika informasi disampaikan kompleks dan dibutuhkan catatan permanan untuk referensi.

Sumber :

  • Djoko Purwanto, 2003, Komunikasi Bisnis, Penerbit Erlangga, Jakarta.
  • Curtis, Dan B;Floyd, James J;Winsor, Jerry L, 1999, Komunikasi Bisnis dan Profesional, Penerbit Remaja Rosda Karya, Bandung.
  • Guffey,Mary Ellen; Rhodes, Kathleen; Rogin, Patricia,2006, Komunikasi Bisnis : Proses dan Produk Buku 1 dan 2, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.